Selasa, 30 Agustus 2016

Connecting Farmers Membuka Peluang Bagi Petani Tradisional Untuk Menambah Edukasi Agraria dan Jaringan Transaksi yang Lebih Efektif, Efisien dan Terpercaya

            Dewasa ini, sektor pertanian banyak disoroti oleh media karena mulai terlibatnya teknologi modern yang banyak digunakan di sistem pertanian modern. Namun, tidak menutup kemungkinan masih banyaknya petani-petani tradisional yang tetap mempertahankan sistem konvensional, dikarenakan keterbatasan biaya maupun kemampuan dari sumber daya manusia yang sudah menginjak usia senja dan kurang memahami teknologi,  sehingga dikhawatirkan mengalami kalah produksi dengan system pertanian modern. Oleh karena itu, perlu diadakannya inovasi bidang system informasi yang dapat memaksimalkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian tradisional, mengingat besarnya kontribusi pertanian dalam pembangunan ekonomi di daerah saya khusunya wilayah Kab. Klaten, Jawa Tengah sebagai penyerap tenaga kerja, kontribusi terhadap pendapatan, kontribusi terhadap penyediaan pangan dan sebagai penyedia bahan baku. Sektor pertanian yang oleh beberapa pihak luar diantaranya pihak Bank Indonesia Surakarta dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diakui sebagai sektor unggulan di Kabupaten Klaten, memiliki nilai LQ pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 1,08 dan 1,09 sehingga bisa disimpulkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Klaten memiliki potensi yang cukup baik dan sektor ini mampu menyumbang rata-rata sebesar 21% terhadap total PDRB Kabupaten Klaten (www.jatengprov.go.id, 2012). Akan tetapi masih banyak kendala bagi petani tradisional untuk memaksimalkan produksi panen mereka, seperti halnya kekurangan informasi. Kebutuhan informasi adalah salah satu hal yang vital bagi petani untuk mendapatkan akses ke prasarana dan sarana penunjang pertanian. Ketika petani elah mendapatkan sarana prasarana yang dibutuhkan dan akses untuk mendapatkannnya lebih mudah, maka persentase produktivitas petani tradisional akan meningkat demikian pula keuntungan yang didapat. Selain itu, petani tradisional juga harus memahami harga pasar yang bersaing dan juga harus cerdas ketika mencari pembeli yang nantinya bertindak sebagai investor untuk modal tahun selanjutnya. Karena tidak sedikit petani tradisional mengalami kerugian dan gagal produksi akibat kurang memahami cara mendapatkan modal dan kurang memahami harga pasar yang berlaku. Melihat dari permasalahan-permasalahan imi, munculah kabar baik berupa sebuah inovasi bernama Connecting Farmers yang nantinya bisa diterapkan di daerah saya Kabupaten Klaten dan tentunya dapat tersebar keseluruh penjuru Indonesia yang masih didominasi petani-petani tradisional. Connecting Farmers adalah sebuah terobosan berbentuk komputer dengan design bentuk menyerupai mesin ATM  yang dirancang demikian sederhana sehingga mudah dipahami oleh petani dari semua kalangan baik muda maupun tua, baik melek teknologi mauppun yang kurang memahami teknologi. Connecting Farmers akan ditempatkan di Kantor Unit Desa terdekat dengan lahan yang dimiliki/dikerjakan oleh petani tradisional, sehingga memudahkan akses transportasi petani untuk mendapatkan pelayanan dari Connecting Farmers yang terintegrasi dengan data pusat sebagai penyaji informasi. Sebelum dapat menggunakan Connecting Farmers, para petani harus melakukan registrasi di Kantor Unit Desa dengan persyaratan yang sederhana seperti halnya menyerahkan fotocopy KTP, KK, Sertifikat Tanah (Jika sebagai pemilik tanah) dan mengisi formulir yang disediakan. Setelah itu, Kantor Unit Desa akan mendaftarkan para calon pengguna Connecting Farmers ke data pusat Dirjen Prasarana dan sarana pertanian dan mendaftarkan ke Kelompok Tani dimana kelompok tani ini berisi orang orang yang berniat melakukan transaksi di bidang pertanian seperti halnya penanam modal, penjual tanah, pembeli tanah dan pengelola pertanian. Kemudian, setelah semua telah dikerjakan oleh KUD maka para petani berhak mendapatkan username dan password (bisa diganti) sehingga para petanipun kini telah bisa mendapatkan pelayanan dari Connecting Farmers. Untuk mendapatkan fasilitas ini, petani tinggal datang ke KUD dan menggunakan mesin Connecting Farmers dengan memasukkan username dan password kemudian memilih menu yang ditawarkan. Connecting Farmers. Ada 2 menu pilihan menu, yang pertama adalah menu tentang informasi pertanian yang diantaranya adalah informasi mengenai cara bercocok tanam, info pupuk, info benih, info cuaca dan penyakit tanaman serta info mengenai sarana prasarana yang dibutuhkan oleh petani, agar nantinya ketika direktorat jendral prasarana dan sarana pertanian memberi bantuan akan jelas tepat sasaran. Kemudian pada pilihan menu kedua yaitu transaksi. Pada menu ini petani, penanam modal, penjual dan pembeli akan disatukan dalam satu wadah yaitu Kelompok Tani dan juga memuat berbagai informasi mengenai info pasar pertanian seperti harga pasar, tren positif penjualan dan lain-lain. Beberapa tujuan menu transaksi ini antara lain dapat mempertemukan antara pemodal dengan petani sebagai eksekutor lapangan sehingga lebih terpercaya, mempertemukan penjual dan pembeli tanpa monopoli makelar tanah sehingga dapat bertransaksi langsung, petani dapat memilah dan memilih calon pemodal usahanya yang sesuai dengan bidang tani yang digelutinya sehingga pemodal juga akan diuntungkan karena dapat berinvestasi dengan bidang tani yang ia inginkan, kemudian fungsi selanjutnya adalah sebagai pusat informasi harga pasar dan tren positif/negative dari jual beli yang sedang ramai, sehingga memperkecil kemungkinan adanya kerugian oleh petani karena dapat menjual hasil produksinya dengan harga yang bersaing dan terhindar dari monopoli pasar. Demikian adalah fasilitas pelayanan yang ditawarkan oleh inovasi Connecting Farmers, dengan kehadirannya maka harapan besar bangsa Indonesia di bidang pertanian akan menemukan titik terang karena dengan Connecting Farmers, para petani tradisional akan lebih maksimal dari segi produksinya baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga mampu menyejahterakan petani, menyediakan lapangan pekerjaan pengolah produksi, wahana pemerataan pembangunan, sebagai pasar input bagi agroindustri, mempertahankan kelestarian sumber daya, meningkatkan pendapatan nasional dan juga merupakan inovasi daerah yang bervisi untuk Indonesia Super Power 2045 Connecting Farmers, Connecting for Welfare.  


Ilustration by Anky Fitrian W


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku

Selasa, 08 Maret 2016


FTIf Journey
Halo teman-teman! Berjumpa lagi dengan saya, Rozana Firdausi. Kali ini saya akan menceritakan kegiatan saya di kampus. Ini adalah kegiatan yang diadakan oleh fakultas saya di ITS yakni Fakultas Teknologi informasi. Adapun yang mengikuti kegiatan ini adalah mahasiswa jurusan Teknik Informatika dan Sistem Informasi. Acara ini berlangsung dua hari.
Acara tersebut dimulai dari pukul 07.30 hingga pukul 16.00. Pada hari pertama yaitu hari Sabtu 27 February 2016  pukul 07.30 kita warga FTIf ditugaskan untuk berkumpul di Gedung Jurusan Sistem Informasi untuk memulai acara pertama yaitu di dalam ruangan TC-104 dengan memakai baju kaos lengan panjang berserta training. Kami juga telah diberikan beberapa penugasan yang harus dibawa maupun di pakai saat hari pertama. Kami sefakultas dibagi menjadi dua dinasti yaitu Dinasti Mahabharata dan Dinasti Ramayana yang dimana tiap dinasti dibagi menjadi 7 kelompok dengan nama kelompok yang berbeda-beda. Dan saya saat ini berada pada kelompok terakhir yaitu 2 yaitu Abhimanyu. Setiap kelompok terdiri sekitar belasan lebih anak yang terdiri dari mahasiswa Teknik Informatika maupun Sistem Informasi . Kegiatan ini bertujuan untuk mengakrabkan kami sefakultas agar kompak dan lebih mengenal.
Di materi yang pertama ini adalah yang sangat mengena bagi saya yaitu FTIf mendatangkan  seseorang dari tim YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Buta). Kenapa paling mengena? Karena saya mendapat motivasi tersendiri dari orang-orang tersebut. Mereka memiliki semangat yang sangat besar demi kehidupan yang baik. Mereka mempunyai bakat-bakat terpendam yang belum diketahui oleh orang lain. Begitu banyak hikmah yang dapat dipetik dari kehidupan mereka. Materi yang kedua yaitu tentang bagaimana seseorang bisa menjadi hero di masyarakat.
Acara selanjutnya yaitu bermain ria dengan kelompok-kelompok yang lain. Banyak game seru yang bisa membuat kami lebih kompak dan bersemangat. Menantang juga bisa dibilang. Hngga akhirnya waktu pun sudah sore dan akhirnya kami harus kembali pulang.
Besoknya, kegiatan yang kami lakukan adalah bakti sosial kepada yang membutuhkan dan membuat papermob. Kami baksos dengan tempat yang berbeeda-beda. Hikmah yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah jangan lupa bersyukur dan berbagi kepada yang butuh bantuan dan pertolongan kita.
Sekian cerita singkat dari saya.