Connecting Farmers Membuka
Peluang Bagi Petani Tradisional Untuk Menambah Edukasi Agraria dan Jaringan Transaksi
yang Lebih Efektif, Efisien dan Terpercaya
Dewasa ini, sektor pertanian banyak
disoroti oleh media karena mulai terlibatnya teknologi modern yang banyak
digunakan di sistem pertanian modern. Namun, tidak menutup kemungkinan masih
banyaknya petani-petani tradisional yang tetap mempertahankan sistem
konvensional, dikarenakan keterbatasan biaya maupun kemampuan dari sumber daya
manusia yang sudah menginjak usia senja dan kurang memahami teknologi, sehingga dikhawatirkan mengalami kalah
produksi dengan system pertanian modern. Oleh karena itu, perlu diadakannya
inovasi bidang system informasi yang dapat memaksimalkan kualitas dan kuantitas
produksi pertanian tradisional, mengingat besarnya kontribusi pertanian dalam
pembangunan ekonomi di daerah saya khusunya wilayah Kab. Klaten, Jawa Tengah
sebagai penyerap tenaga kerja, kontribusi terhadap pendapatan, kontribusi
terhadap penyediaan pangan dan sebagai penyedia bahan baku. Sektor pertanian
yang oleh beberapa pihak luar diantaranya pihak Bank Indonesia Surakarta dan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diakui sebagai sektor unggulan di Kabupaten
Klaten, memiliki nilai LQ pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 1,08 dan 1,09
sehingga bisa disimpulkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Klaten memiliki
potensi yang cukup baik dan sektor ini mampu menyumbang rata-rata sebesar 21%
terhadap total PDRB Kabupaten Klaten (www.jatengprov.go.id, 2012). Akan
tetapi masih banyak kendala bagi petani tradisional untuk memaksimalkan
produksi panen mereka, seperti halnya kekurangan informasi. Kebutuhan informasi
adalah salah satu hal yang vital bagi petani untuk mendapatkan akses ke prasarana
dan sarana penunjang pertanian. Ketika petani elah mendapatkan sarana prasarana
yang dibutuhkan dan akses untuk mendapatkannnya lebih mudah, maka persentase
produktivitas petani tradisional akan meningkat demikian pula keuntungan yang
didapat. Selain itu, petani tradisional juga harus memahami harga pasar yang
bersaing dan juga harus cerdas ketika mencari pembeli yang nantinya bertindak
sebagai investor untuk modal tahun selanjutnya. Karena tidak sedikit petani
tradisional mengalami kerugian dan gagal produksi akibat kurang memahami cara
mendapatkan modal dan kurang memahami harga pasar yang berlaku. Melihat dari
permasalahan-permasalahan imi, munculah kabar baik berupa sebuah inovasi bernama Connecting
Farmers yang nantinya bisa diterapkan di daerah saya Kabupaten Klaten dan
tentunya dapat tersebar keseluruh penjuru Indonesia yang masih didominasi
petani-petani tradisional. Connecting
Farmers adalah sebuah terobosan berbentuk komputer dengan design bentuk
menyerupai mesin ATM yang dirancang
demikian sederhana sehingga mudah dipahami oleh petani dari semua kalangan baik
muda maupun tua, baik melek teknologi mauppun yang kurang memahami teknologi. Connecting Farmers akan ditempatkan di
Kantor Unit Desa terdekat dengan lahan yang dimiliki/dikerjakan oleh petani
tradisional, sehingga memudahkan akses transportasi petani untuk mendapatkan
pelayanan dari Connecting Farmers yang
terintegrasi dengan data pusat sebagai penyaji informasi. Sebelum dapat
menggunakan Connecting Farmers, para
petani harus melakukan registrasi di Kantor Unit Desa dengan persyaratan yang
sederhana seperti halnya menyerahkan fotocopy KTP, KK, Sertifikat Tanah (Jika
sebagai pemilik tanah) dan mengisi formulir yang disediakan. Setelah itu,
Kantor Unit Desa akan mendaftarkan para calon pengguna Connecting Farmers ke data pusat Dirjen Prasarana dan sarana
pertanian dan mendaftarkan ke Kelompok Tani dimana kelompok tani ini berisi
orang orang yang berniat melakukan transaksi di bidang pertanian seperti halnya
penanam modal, penjual tanah, pembeli tanah dan pengelola pertanian. Kemudian,
setelah semua telah dikerjakan oleh KUD maka para petani berhak mendapatkan
username dan password (bisa diganti) sehingga para petanipun kini telah bisa
mendapatkan pelayanan dari Connecting
Farmers. Untuk mendapatkan fasilitas ini,
petani tinggal datang ke KUD dan menggunakan mesin Connecting Farmers dengan memasukkan username dan password kemudian
memilih menu yang ditawarkan. Connecting
Farmers. Ada 2 menu pilihan menu, yang pertama adalah menu tentang informasi
pertanian yang diantaranya adalah informasi mengenai cara bercocok tanam, info
pupuk, info benih, info cuaca dan penyakit tanaman serta info mengenai sarana
prasarana yang dibutuhkan oleh petani, agar nantinya ketika direktorat jendral
prasarana dan sarana pertanian memberi bantuan akan jelas tepat sasaran.
Kemudian pada pilihan menu kedua yaitu transaksi. Pada menu ini petani, penanam
modal, penjual dan pembeli akan disatukan dalam satu wadah yaitu Kelompok Tani
dan juga memuat berbagai informasi mengenai info pasar pertanian seperti harga
pasar, tren positif penjualan dan lain-lain. Beberapa tujuan menu transaksi ini
antara lain dapat mempertemukan antara pemodal dengan petani sebagai eksekutor
lapangan sehingga lebih terpercaya, mempertemukan penjual dan pembeli tanpa
monopoli makelar tanah sehingga dapat bertransaksi langsung, petani dapat
memilah dan memilih calon pemodal usahanya yang sesuai dengan bidang tani yang
digelutinya sehingga pemodal juga akan diuntungkan karena dapat berinvestasi
dengan bidang tani yang ia inginkan, kemudian fungsi selanjutnya adalah sebagai
pusat informasi harga pasar dan tren positif/negative dari jual beli yang
sedang ramai, sehingga memperkecil kemungkinan adanya kerugian oleh petani
karena dapat menjual hasil produksinya dengan harga yang bersaing dan terhindar
dari monopoli pasar. Demikian adalah fasilitas pelayanan yang ditawarkan oleh
inovasi Connecting Farmers, dengan
kehadirannya maka harapan besar bangsa Indonesia di bidang pertanian akan
menemukan titik terang karena dengan Connecting
Farmers, para petani tradisional akan lebih maksimal dari segi produksinya
baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga mampu menyejahterakan petani,
menyediakan lapangan pekerjaan pengolah produksi, wahana pemerataan
pembangunan, sebagai pasar input bagi agroindustri, mempertahankan kelestarian
sumber daya, meningkatkan pendapatan nasional dan juga merupakan inovasi daerah yang bervisi untuk Indonesia Super Power 2045 Connecting Farmers, Connecting for Welfare.
Ilustration
by Anky Fitrian W
Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku


